Daerah Kabupaten Cilacap terletak pada 108’.4’.30’’ – 109’. 30’.30’’ garis Bujur Timur, 7 ‘.45’.20’’ – 7 ‘.30’ garis Lintang Selatan.  Batas-batas daerah Kabupaten Cilacap, yaitu  :  sebelah Selatan laut Indonesia, sebelah Timur Kabupaten Kebumen, sebelah Utara Kabupaten Banyumas dan Kabupaten Brebes, sebelah Barat Propinsi Jawa Barat.
Wilayah Kabupaten Cilacap terletak pada ketinggian mulai dari   0 meter (garis pantai) sampai dengan daerah bergunung dengan ketinggian 1.146 meter di atas permukaan laut (Gunung Bongkok di Kecamatan Wanareja). Berdasarkan pembagian wilayah menurut konsep Wilayah Tanah Usaha (WTU), yaitu pembagian wilayah atas dasar ketinggian, wilayah Kabupaten Cilacap dibedakan atas  :
1.  WTU terbatas  1                :  terletak pada ketinggian 0 – 7 meter.
2.  WTU utama 1a dan b         :  terletak pada ketinggian 7 – 25 meter.
3.  WTU utama 1c                    :  terletak pada ketinggian 25 – 100 meter.
4.  WTU utama 1d                   :  terletak pada ketinggian 100 – 500 meter.
5.  WTU utama II                    :  terletak pada ketinggian 500 – 1000 meter.
6.  WTU terbatas II                  :  terletak pada ketinggian 1000 meter.
Beberapa jenis tanah yang terdapat di daerah-daerah Kabupaten Cilacap antara lain :
1.    Aluvial hidromorf
2.    Aluvial kelabu tua
3.    Aluvial kelabu kekuningan
4.    Asosiasi aluvial kelabu dan aluvial coklat kelabu
5.    Asosiasi glei humus rendah aluvial kelabu
6.    Kompleks litosol mediteran dan renzina
7.    Regosol kelabu
8.    Grumusol kelabu
9.    Komplek grumusol regosol dan mediteran
10.    Latosol coklat tua kemerahan
11.    Asosiasi latosol coklat kemerahan dan latosol coklat
12.    Kompleks latosol merah kekuningan, latosol coklat, podsolik merah kekuningan  dan latosol
13.    Kompleks podsolik merah kekuningan,  podsolik kuning merah dan regosol
Dengan menggunakan dasar pemisah tinggi tempat,  keadaan tanah,  bentuk muka lahan dan hidrologi akhirnya dapat dipisahkan adanya lima wilayah sub agroekosistem yang secara garis besar dapat dikatakan masing-masing membujur dari Barat ke Timur.
Di daerah – daerah Kabupaten Cilacap terdiri dari beberapa wilayah sub agroekosistem diantaranya adalah  :
1.    Sub Agroekosistem pasir pantai
Meliputi 2,74%, ini merupakan lahan pasiran yang berhubungan langsung dengan laut membujur dari kecamatan – kecamatan Cilacap, Adipala, Binangun, dan Nusawungu dengan lebar lebih kurang satu kilometer .  Wilayah ini mempunyai ketinggian yang berkisar dari       0 – 5 meter dpl.

2.    Sub Agroekosistem lagoon
Meliputi 4,11%, ini dijumpai di beberapa tempat di daerah Kabupaten Cilacap sebagai jalur yang sempit yang dalam musin hujan selalu tergenang air dan pada musim kemarau sering terjadi genangan air laut.

3.    Sub Agroekosistem persawahan aluvial
Meliputi 27,31%, ini mencakup wilayah yang relatif luas dan datar dan tersebar di beberapa kecamatan.  Wilayah   ini   ditandai  dengan
ketinggian tempat dibawah 100 meter dari permukaan laut, dengan jenis tanah aluvial.

4.    Sub Agroekosistem bukit kapur
Meliputi 9%, secara garis besar dapat dikatakan bahwa sub agroekosistem ini membujur dari kecamatan Wanareja walaupun di beberapa tempat terputus.  Sub Agroekosistem ini mempunyai ketinggian antara 100 -–198 meter dari permukaan laut.

5.    Sub Agroekosistem pegunungan
Meliputi 44,03% ini merupakan wilayah / daerah – daerah sebelah Utara dan Barat membujur dari Kecamatan Majenang, Wanareja, Dayeuhluhur.  Wilayah ini mempunyai ketinggian dari 144 – 198 meter dari permukaan laut.

6.    Disamping beberapa sub agroekosistem, di daerah Kabupaten Cilacap juga terdapat rawa – rawa sekitar 21,81%.
(Sumber  :  Penelitian STIPER Yogyakarta, 1985)

Keadaan Jenis Tanah di Beberapa Kecamatan di Kabupaten Cilacap
Jenis tanah yang terdapat di beberapa Kecamatan di Kabupaten Cilacap, saat ini merupakan hasil proses pembentukan tanah masa lampau.
Proses pembentukan  tanah ini dipengaruhi antara lain oleh keadaan iklim, topografi, bahan induk, waktu serta proses pelapukan dan kimia dimana tanah tersebut berada.
Berdasarkan tingkat perkembangan jenis tanah yang ada, dibeberapa Kecamatan di Kabupaten Cilacap dibedakan atas tanah yang belum lanjut perkembangannya seperti latosol, andosal dan mediteran. Tanah aluvial umumnya menyebar  di daerah dataran rendah, yaitu wilayah sebelah selatan yang merupakan zone endapan.  Endapan aluvial yang sudah tua dan menampakkan akibat pengaruh iklim dan vegetasi tidak teramasuk aluvial.  Kalau melihat genese tanahnya, tanah aluvial kurang dipengaruhi iklim dan vegetasi, tetapi yang paling nampk pengaruhnya pada ciri dan sifat tanahnya ialah bahan induk dan topografi sebagai akibat waktu terbentuknya masih muda. Tanah aluvial dipengaruhi langsung oleh sumber bahan asal, sehingga kesuburannya pun ditentukan seperti bahan asalnya  Litosol merupakan tanah yang umumnya terdapat di lereng-lereng atau kaki bukit dengan ciri  mempunyai solum (ketebalan tanah) dangkal (kurang dari 45 cm) di atas batuan keras atau tampak tanah sebagai batuan padat yang padu.  Tanah litosol harus diusahakan agar dipercepat pembentukan tanah, antara lain penghutanan.
Regosol merupakan tanah yang mempunyai sifat fisik kasar (berpasir), struktur kersai/remah, konsistensi lepas – gembur,   pH 6 – 7.  Umumnya bahan membentuk agregat, sehingga peka terhadap erosi ;  cukup mengandung unsur P dan K yang masih segar dan belum siap untuk diserap tanaman, tetapi kekurangan unsur N.  Regosol ada beberapa macam, antara lain  :  Regosol Bukit – Pasar, yaitu terjadi di sepanjang pantai Cilacap – Parangtritis.  Tanah ini umumnya bertekstur kasar, dengan gaya menahan air rendah dan permeabilitas makanan kurang baik;  Regosol Coklat Kelabu, yaitu dari bahan induk kapur – napal dengan profil homogen, tekstur berpasir, struktur remah, mengandung fragmen-fragmen batu kapur terbatas di tas lungur-lungur cembung ;  Regosol akibat erosi umumnya dangkal dan kurang subur, karena lapisan tanah yang banyak mengandung bahan organik dan unsur hara tererosi, terdapat pada lahan yang miring atau curam pada kebun-kebun yang terlantar.
Tanah Latosol tingkat kesuburan medium, solum dangkal – sedang, kedalaman tanah 1,5 – 10 meter.  Ada beberapa jenis tanah latosol, antara lain  Latosol merah kekuningan, yaitu terletak didaerah bergelombang sampai pegunungan dengan morfologi plinthite.  Tergantung pada topografi dan iklim setempat tanah ini sudah banyak ditanami padi baik sawah maupun ladang, jagung, kopi, coklat, karet, tebu, ketela, buah-buahan dan umbi-umbian ;  Latosol merah dan coklat kemerahan, nilai pertaniannya lebih tinggi daripada  macam tanah latosol merah kekuningan ; Latosol coklat, berasal dari berbagai batuan tetapi paling umum dari abu vulkanik basa pada daerah berbukit yang agak tinggi dan vegetasi hutan basah.  Tanah ini sudah banyak ditanami kopi, teh, coklat, padi, pisang dan pertanian campuran.
Litosol dan regosol umumnya merupakan tanah yang relatif kurang subur.  Sedangkan jenis tanah lainnya seperti aluvial, latosol mediteran dan andosol relatif lebih subur dibandingkan litosol dan regosol.
Mayoritas jenis tanah di Kabupaten Cilacap didominasi oleh kompleks latosol merah kekeringan, latosol coklat tua dan litosol seluas 37.638 Ha (17,52 %) dan aluvial hidromorf seluas 31.941 Ha (14,87 %).
Secara umum di wilayah Kabupaten Cilacap ditandai dengan adanya musim hujan dan musim kemarau yang berbeda tegas selama satu tahun terdapat kisaran rata – rata  :
6 – 7 bulan basah dan 4 – 5 bulan kering ;
6 – 7 bulan basah dan 3 – 4 bulan kering ;
7 – 9 bulan basah dan 2 – 3 bulan kering.
Salah satu unsur iklim yang terpenting sehubungan dengan kegiatan manusia, adalah curah hujan.  Peta curah hujan dan frekuensinya di suatu daerah akan sangat  berguna untuk merencanakan berbagai kegiatan pertanian dalam arti luas.  Dengan data curah hujan bulanan dapat diketahui curah hujan maksimal bulanan dan bulan – bulan kering di suatu daerah, yang erat kaitannya dengan periode fase pertumbuhan berbagai jenis tanaman pertanian.  Data curah hujan yang disajikan dalam bentuk peta curah hujan tahunan, diambil dari beberapa stasiun pengamatan curah hujan.  Secara umum Kabupaten Cilacap mempunyai curah hujan tahunan yang berkisar antara 1.100 mm sampai dengan lebih 3.000 mm per tahun.   Iklim rata-rata bulanan di Kabupaten Cilacap menurut Smith dan Fergusson termasuk tipe A yang berarti sangat basah.
Lahan yang dimiliki oleh petani pada umumnya dapat digolongkan menjadi lahan persawahan, lahan tegalan dan lahan pekarangan.  Pemilikan lahan masing-masing Sub Agroekosistem adalah sebagai berikut   :
1.   Sub Agroekosistem Pasir Pantai  :
a.    Lahan sawah tadah hujan   :  0,03 – 1,00 Ha, dengan rata-rata lebih kurang 0,50 Ha.
b.    Tegalan  :  0,14 – 2,50 Ha, dengan rata-rata 1,32 Ha.
c.    Pekarangan  :  0,04 – 0,70 Ha, dengan rata-rata  :  0,370 Ha.
2.  Sub Agroekosistem Lagoon
Seperti dalam masalah kependudukan, perlu diketahui bahwa Lagoon ini hanya merupakan bagian kecil dari wilayah desa yang mencakup Lagoon. Untuk desa-desa yang wilayahnya terdapat Lagoon, pemilikan lahan sawah rata- rata 0,65 Ha dengan kisaran : 0,14 – 2,50 Ha per Kepala Keluarga, rata-rata pekarangan 0,37 Ha dengan kisaran 0,04 – 0,70 Ha per Kepala Keluarga.
3.  Sub Agroekosistem Sawah Aluvial
Pemilikan lahan sawah rata-rata 0,41 Ha dengan kisaran  : 0,08 –  1,70 Ha per Kepala Keluarga, rata-rata tegalan : 0,03 Ha dengan kisaran 0,15 – 6,00 Ha per Kepala Keluarga, rata-rata pekarangan 0,16 Ha dengan kisaran 0,04 – 0,70 ha per Kepala Keluarga.
4.  Sub Agroekosistem Bukit Kapur
Pemilikan lahan sawah rata-rata 0,51 Ha dengan kisaran  : 0,25 – 1,40 Ha per Kepala Keluarga, rata-rata tegalan 0,92 Ha dengan kisaran 0,15 – 6,00  Ha per Kepala Keluarga, rata-rata pekarangan 0,09 Ha dengan kisaran 0,008 – 0,700 Ha per Kepala Keluarga.
5.  Sub Agroekosistem Pegunungan
Pemilikan lahan sawah rata-rata 0,51 Ha, dengan kisaran 0,51 – 2,30 Ha per Kepala Keluarga, rata-rata tegalan 0,43 Ha dengan kisaran 0,08 – 0,45 Ha per Kepala Keluarga, rata-rata pekarangan 0,09 Ha dengan kisaran 0,009 – 0,700 Ha per Kepala Keluarga.

 

Potensi dan Produk Unggulan

1. Jeruk Keprok

Rencana pengembangan Jeruk keprok seluas 400 ha.  Sampai tahun 2010 terdapat luas lahan seluas 59 ha yang tersebar di beberapa kecamatan Jeruklegi, Sampang, dan Maos.

2. Pepaya California

Rencana pengembangan pepaya california seluas 200 ha.  Sampai tahun 2010 terdapat luas lahan pepaya caifornia seluas 50 ha yang tersebar di Kecamatan Kroya, Sampang, Maos, Kesugihan, Cilacap Utara dan Gandrungmangu.

3. Pisang

Rencana pengembangan pisang jenis Rajabulu seluas 500 ha di Kecamatan Kesugihan, Jeruklegi, Kedungreja dan Majenang.  Saat ini terdapat luasan lahan 12 ha di Kecamatan Gandrungmangu.

4. Cabe

Sentra-sentra pengembangan cabe di kecamatan Wanareja, Dayeuhluhur, Binangun dan Nusawungu.

5. Sukun

Sentra pengembangan sukun di Kecamatan Kesugihan, Cilacap Utara, Cilacap Tengah, Cilacap Selatan, Binangun, Adipala, Kroya, Jeruklegi, Nusawungu.

6. Sapi

Sentra pengembangan sapi terdapat di Kecamatan Binangun, Adipala Nusawungu, Kesugihan, Gandungmangu dan Dayeuhluhur.

7. Kambing

Sentra pengembangan kambing terdapat di Kecamatan Karangpucung. Di Karangpucung terdapat pasar hewan karangpucung.

8. Kambing Perah

Sentra pengembangan kambing perah terdapat di Kecamatan Jeruklegi.